KDM dan Menag RI Sambut Muharram 1448 H di Masjid Raya Al Jabbar

KDM dan Menag RI Sambut Muharram 1448 H di Masjid Raya Al Jabbar

Gubernur Jawa Barat H. Dedi Mulyadi alias Kang Dedi Mulyadi (KDM) bersama Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah di Masjid Raya Al Jabbar, Selasa (9/6/2026). Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H sendiri baru jatuh pada 16 Juni 2026. Acara digelar menyesuaikan dengan agenda KDM dan Menag.

Selain kedua tokoh tersebut, acara sambut Tahun Baru Islam 1448 H ini juga diisi Kajian dan Muhasabah bersama Hipnoterapis Umma Ilmia Amalia.

Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi mengajak masyarakat menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum memperbaiki diri serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, esensi Islam tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap sosial yang membawa manfaat bagi sesama. Ia juga mengingatkan pentingnya menghadirkan nilai cinta kasih, kesabaran, dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

“Apa pun yang terjadi di Jawa Barat adalah tanggung jawab negara. Pemimpinnya Dedi Mulyadi. Saya menyampaikan permintaan maaf,” kata KDM.

KDM juga bicara terkait persoalan pendidikan, infrastruktur, pelayanan administrasi, hingga pengelolaan lingkungan yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan harus terus diperbaiki.

Selain menyampaikan pesan keagamaan, Dedi juga menekankan bahwa tugas pemerintah adalah memastikan kesejahteraan masyarakat, termasuk membantu kelompok rentan seperti masyarakat miskin, anak yatim, petani, nelayan, buruh, dan warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

KDM juga menyoal masjid yang menjadi tempat wisata. Menurutnya, fungsi utama masjid sebagai tempat membangun spiritualitas tidak boleh tergeser oleh aktivitas rekreasi semata.

Menurutnya, masjid sejatinya merupakan tempat untuk bertafakur, bersujud, dan membangun hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan. Namun, ia melihat adanya perubahan perilaku sebagian masyarakat yang datang ke masjid hanya untuk menikmati keindahan bangunan.

“Hari ini terjadi pergeseran. Masjid tempat tafakur dan tempat bersujud berubah menjadi sarana rekreasi,” ujar Dedi.

Ia menilai fenomena tersebut terlihat dari banyaknya rombongan masyarakat yang datang ke masjid-masjid besar hanya untuk berwisata atau berfoto.

“Kalau masjid menjadi sarana rekreasi, bukan sarana spiritualitas, maka masjid hanya akan menjadi tempat selfie, bukan tempat tafakur,” katanya.

KDM menegaskan dirinya tidak melarang masyarakat mengunjungi masjid-masjid besar, termasuk Masjid Al-Jabbar. Namun, ia berharap kunjungan tersebut diiringi dengan upaya meningkatkan kualitas ibadah dan perilaku sehari-hari.

Menurutnya, manfaat yang diperoleh seseorang dari masjid dapat dilihat dari perubahan sikap setelah beribadah.

“Kalau datang ke Al-Jabbar tidak ada sampah yang ditinggalkan, tidak ada kesemrawutan parkir, pulang membawa kebahagiaan dan tidak ada kebencian, itulah orang yang benar-benar masuk masjid,” ujarnya.

Dedi juga mengajak masyarakat menjadikan nilai-nilai yang diperoleh di masjid sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan mengedepankan cinta kasih dan menghindari kebencian terhadap sesama.

“Hidup penuh cinta kasih, hidup penuh kebahagiaan. Itulah orang yang masuk masjid,” katanya dikutip Kumparan.

Ia berharap syiar Islam tidak hanya terlihat dari ramainya tempat ibadah, tetapi juga tercermin dari perubahan perilaku umat dalam kehidupan bermasyarakat.

Galeri Foto KDM dan Menag RI Sambut Muharram 1448 H di Masjid Raya Al Jabbar

This slideshow requires JavaScript.

Posted in Info Al Jabbar and tagged , , , .

Leave a Reply