Menjelang berakhirnya tahun 2025, pada Ceramah Dzuhur di Masjid Raya Al Jabbar, Ahad (23/11), Dr. Aa Abdul Rozak, M.Ag (Ketua LASQI Bandung Raya/anggota DPRD Kota Bandung) menyampaikan pesan penting mengenai urgensi muhasabah sebagai bentuk kesadaran seorang hamba dalam memanfaatkan waktu.
Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa akhir tahun seharusnya tidak hanya dirayakan dengan euforia, tetapi menjadi momentum untuk mengukur kembali perjalanan hidup.
“Rugilah orang yang tidak memanfaatkan waktu sekecil apa pun,” ujarnya.
Menurutnya, waktu merupakan nikmat yang sering terabaikan meski kedudukannya dimuliakan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Ia menyebut bahwa beberapa surat dimulai dengan sumpah terhadap waktu dhuha, siang, ashar, hingga malam sebagai tanda tingginya nilai waktu dalam kehidupan seorang muslim.
“Waktu itu seperti pedang bisa menyelamatkan, tapi bisa pula melukai,” katanya.
Dr. Aa menyampaikan bahwa akhir tahun menjadi momen evaluasi apakah nikmat sehat, usia, dan kesempatan yang diberikan Allah telah benar-benar dioptimalkan. Ia mencontohkan kondisi pasien di rumah sakit yang harus membeli oksigen untuk bernapas, berbeda dengan jemaah yang hadir dalam keadaan sehat.
“Kita hari ini menghirup udara dengan gratis. Sudahkah kita bersyukur?” ungkapnya.
Syukur, menurutnya, menjadi pembuka pintu tambahan nikmat sekaligus penolak datangnya musibah. Dalam paparannya, Dr. Aa juga mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki batas hidup yang tidak diketahui. Karena itu, bekal terbaik adalah amalan yang terus mengalir meskipun pemiliknya telah wafat: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat dan do’a anak saleh.
Ia menegaskan, sedekah jariyah tidak harus berupa materi.
“Yang punya tenaga, sedekah dengan tenaga. Yang punya waktu, manfaatkan waktu untuk kebaikan,” jelasnya.
Dr. Aa Abdul kemudian menyoroti pentingnya menghormati walidain, baik orang tua biologis maupun para guru. Ia menekankan keberkahan hidup kerap datang melalui ridha keduanya.
“Ridha Allah tergantung ridha orang tua. Termasuk guru-guru kita,” ujarnya.
Ia mengajak jamaah rutin mendoakan orang tua dan guru sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih atas ilmu yang diwariskan. Mengutip ayat Al-Qur’an yang menegaskan perubahan tidak akan terjadi tanpa usaha manusia, Dr. Aa Abdul menekankan pentingnya ikhtiar dalam setiap langkah hidup. Ia juga menyinggung posisinya sebagai anggota DPRD sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan demi kemaslahatan masyarakat.
“Saya memegang prinsip: kebijakan pemimpin harus membawa manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Ceramah ditutup dengan seruan agar umat senantiasa menebar kebaikan, memudahkan urusan orang lain, dan menguatkan hubungan sosial. Dr. Aa Abdul Rozak mengingatkan hadits Qudsi: “Cintailah yang ada di bumi, maka yang di langit akan mencintaimu.” (Aline Mumtaz Kurniawan/ KPI UMB)