Tiga Tanda Hati yang Sakit dan Pentingnya Menjaga Kualitas Ibadah

Ikhwan NasoriMasjid Raya Al Jabbar kembali menghadirkan kajian pencerahan melalui Ceramah Dzuhur yang disampaikan oleh Ustadz M. Ikhwan Nasori, M.Pd sebagai pengurus DKM Al Jabbar dan Lembaga Dakwah NU Jawa Barat.

Kajian yang berlangsung pada Kamis, 27 November 2025, ini diikuti oleh jamaah dari berbagai wilayah. Berikut ini intisari materi ceramahnya.

Suasana siang itu terasa hangat dan menenangkan ketika para jamaah berkumpul untuk mengikuti kajian yang mengupas tema yang begitu dekat dengan kehidupan: penyakit hati. Tema yang sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh akar dari banyak persoalan manusia.

Dalam penyampaiannya, sang penceramah mengingatkan hati yang sakit bukan sekadar “sakit hati” karena tersinggung atau kecewa. Hati yang sakit, katanya, adalah kondisi ketika hati dipenuhi penyakit batin yang membuat seseorang jauh dari Allah SWT. Bahkan, penyakit ini jauh lebih berbahaya karena sering tidak terasa dan tidak disadari.

Tiga Tanda Hati yang Sakit

1. Membiarkan Diri Bermaksiat Tanpa Penyesalan

Indikasi pertama hati yang sakit adalah ketika seseorang terbiasa melakukan maksiat tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ada orang yang melakukan dosa, namun hatinya tetap tenang-tenang saja—seolah itu hal biasa. Padahal, kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan.

Jika dosa tidak lagi terasa berat, itulah pertanda hati mulai mengeras. Karena itu, Islam mengajarkan untuk segera bertobat, menyesali kesalahan, mencabut perbuatan buruk, serta bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.

2. Bermain-main dengan Ibadah

Ciri kedua adalah ketika ibadah dianggap sekadar rutinitas atau bahkan beban. Orang yang hatinya sakit menjalankan ibadah tanpa kesungguhan, tanpa kekhusyukan, bahkan tidak merasa bersalah jika meninggalkannya. Ibadah yang semestinya menjadi sumber ketenangan justru dianggap tak punya pengaruh dalam kehidupan.

Padahal, ibadah adalah kebutuhan hati. Ketika ibadah diremehkan, hati pun akan semakin jauh dari cahaya Allah.

3. Menggantungkan Harapan pada Makhluk

Indikasi terakhir adalah ketika seseorang lebih percaya pada makhluk daripada kepada Allah SWT. Mengandalkan harta, kedudukan, ilmu, atau manusia lain—tanpa menghadirkan Allah sebagai tempat bergantung—menjadi tanda hati yang sakit.

Apa pun yang kita miliki hanyalah titipan. Ketika hati terlalu bergantung pada dunia, di situlah hati mulai rapuh.

Hati yang Sakit Bisa Diobati

Walaupun penyakit hati termasuk kronis, bukan berarti tidak ada penyembuhannya. Dalam kitab karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa hati dapat kembali sehat jika seseorang terus memperbaiki niat, mendekatkan diri kepada Allah, dan menjaga pasrah kepada-Nya.

Serahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dalam setiap langkah hidup. Setiap rencana harus dibingkai dengan keyakinan penuh bahwa Allah-lah yang berkuasa atas segala hasil.

Menjaga Hati untuk Selalu “Online” kepada Allah

Jagalah hati agar tetap “online” kepada Allah —senantiasa terhubung, tidak pernah putus. Ibarat sinyal yang stabil, hati yang dekat kepada Allah SWT akan memandu langkah, menenangkan jiwa, dan menjaga seseorang dari kemaksiatan. (Shofie Fahhama Nisa/KPI UMB)

Posted in Berita, Ceramah and tagged , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *